AHLAN WASAHLAN,ISLAM MUMTAZ, JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMENTAR

Landasan Pengembangan Metodologi PAI



Oleh: Abdurrohim
 
BAB I
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari hidup dan kehidupan manusia[1]. Hubungan dua variable, antara manusia dengan pendidikan diawali sebuah pertanyaan yang mendasar: “apakah manusia dapat dididik?”. Ataukah manusia dapat tumbuh dan berkembang sendiri tanpa melalui pendidikan? Lantas bagaimana cara mendidiknya? Dan seterusnya.
Landasan Pengembangan Metodologi PAI
Pertanyaan diatas telah lama menjadi bahan kajian para ahli pendidikan, bahkan sejak zaman Yunani kuno. Pendapat yang umum dikenal dalam pendidikan barat mengenai mungkin dan tidaknya manusia dididik, sehingga melahirkan tiga aliran filsafat pendidikan; nativisme, empirisme dan konvergensi[2].

Terlepas dari pembahasan tentang ketiga aliran filsafat tersebut, manusia secara alamiah pada dasaranya bersifat tumbuh dan berkembang[3]. Pola perkembangan manusia dan alam semesta berlangsung di atas hukum alam yang ditetapkan Allah swt (Sunnatullah).
Realitas perkembangan manusia juga tidak terlepas dari lingkungan (sosiokultural), sehingga Metodologi pendidikan yang mengiringi manusia itu sendiri juga secara otomatis diperlukan adanya perkembangan sehingga sesuai dengan kebutuhannya.
Dalam makalah ini peneliti hendak memaparkan sekilas tentang landasan pengembangan metodologi pembelajaran tersebut, yang berpijak atas dasar-dasar historis, filosofis, historis dan lain sebagainya.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Metodologi Pembelajaran
Kata Metodologi berakar dari dari kata “metode” yang berasal dari kata bahasa Yunani “metodos” yang terdiri dari dua kata “metha” yang berarti melalui atau melewati, dan kata “hodos” yang berarti jlan atau cara[4]. sedangkan metodologi adalah ilmu metode; ilmu cara-cara dan langkah-langkah yang tepat (untuk menganalisa sesuatu); penjelasan serta penerapannya[5]. b
Pembelajaran pada dasarnya merupakan suatu rekayasa yang diupayakan untuk membantu peserta didik agar dapat tumbuh berkembang sesuai dengan maksud dan tujuan penciptaannya[6]. Sementara itu Asrori dalam Psikologi Pembelajaran mendefiniskan pembelajaran sebagai berikut Pembelajaran merupakan suatu proses perubahan tingkah laku yang diperoleh dari pengalaman individu yang bersangkutan[7]. Dari kedua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan proses perubahan dan pengembangan tingkah laku seseorang (peserta didik) dengan maksud dan tujuan tertentu.

B.     Pendidikan Agama Islam
“Pendidikan Islam” dapat diartikan sebagai pendidikan yang (bercorak) islami, yakni pendidikan yang berdasarkan Islam. Sehingga diperlukan definisi pendidikan menurut Islam.
Guna membahas pendidikan menurut Islam, sebelumnya perlu dikedepankan definisi “pendidikan” menurut para ahli, yang nantinya dikorelasikan dengan al-Quran/ Hadist, atau pendapat para pakar pendidikan Muslim, yang tentunya tidak akan terlepas dari filsafat yang dianut oleh pakar tersebut[8].
Kata “Pendidikan” berasal dari kata “Rabba” dengan bentuk mashdarnya “Tarbiyah”.
Pendidikan menurut beberapa ahli di Barat,  antara lain pendapat Mortimer J. Adler yang dikutip Muzayyin[9], mengartikan: pendidikan adalah proses dengan semua kemampuan manusia (bakat dan kemampuan yang diperoleh) yang dapat dipengaruhi oleh pembiasaan, disempurnakan dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik melalui sarana yang secara artistik dibuat dan dipakai oleh siapa pun untuk membantu orang lain atu dirinya sendiri mencapai tujuan yang ditetapkan, yaitu kebiasaan yang baik. Selain itu, Herman  H. Horne memandang pendidikan sebagai suatu proses penyesuaian diri manusia secara timbal balik dengan alam sekitar, dengan sesama manusia, dengan tabiat tertinggi dari kosmos. Tidak jauh berbeda, William Mc Gucken, S.J. mendefiniskan pendidikan sebagai suatu perkembangan dan kelengkapan dari kemampuan-kemampuan manusia baik moral, intelektual, maupun jasmaniah yang diorganisasikan, dengan atau untuk kepentingan  individual atau sosial dan diarahkan kepada kegiatan-kegiatan yang bersatu dengan penciptanya sebagai tujuan akhir.
Sedangkan menurut Marimba yang dikutip Ahmad Tafsir[10] menyatakan bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama”.
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan sebagai suatu proses harus mampu mengarahkan, membimbing serta mengembangkan kemampuan dalam diri manusia menjadi suatu kegiatan hidup yang berhubungan dengan Tuhan (Pencipta), baik kegiatan itu bersifat pribadi maupun bersifat sosial.
Pengertian Pendidikan seperti diatas, secara definitif belum terdapat di Zaman Rasulullah saw. Tetapi usaha dan kegiatan yang dilakukan oleh Nabi dalam menyampaikan seruan agama dengan berdakwah, menyampaikan ajaran, memberi contoh, melatih keterampilan berbuat, memberi motivasi dan menciptakan lingkungan sosial yang mendukung pelaksanaan ide pembentukan pribadi muslim itu, telah mencakup arti pendidikan dalam pengertian yang luas[11].
Adapun “Pendidikan Islam”, banyak para ahli yang berbeda pendapat, namun disini peneliti mengemukakan definisi pendidikan  Islam menurut  Marimba, yang dikutip Sudiyono menyatakan :
“Pendidikan Islam yaitu bimbingan jasmani, rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam”

Dari definisi diatas, dapat diambil pemahaman bahwa Pendidikan Islam sebagai suatu proses pengembangan manusia (jasmani dan rohani) untuk mencapai suatu tujuan pendidikan Islam, yakni membentuk kepribadian Muslim. Dengan arti, keprobadian yang memiliki nilai-nilai Agama Islam, memilih dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai Islam, serta bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Sedangkan “Pendidikan Agama Islam” dalam GBPP PAI di sekolah umum, dijelaskan “usaha sadar untuk menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional[12].

C.    Landasan-landasan Pengembangan PAI
Setelah memahami arti pendidikan Agama Islam yang seharusnya terus berkembang, dalam kaitannya dengan pendidikan nasional, Fatah Yasin sedikitnya membagi 8 landasan sebagai berikut[13] :
1.      Landasan Filosofis
Nilai filosofis yang kemudian dijadikan landasan / dasar filosofis pendidikan, memiliki makna bahwa kegiatan pendidikan itu harus bersumber pada pndangan hidup yang paling mendasar. Jika pandangan hidup atau cara berfikir manusia yang paling mendasar bersumber dari nilai-nilai fundamental, maka muncul semacam pertanyaan dari mana manusia itu ada dan dari mana sumber ilmu diperoleh. Pertanyaan semacam itu kemudia dijadikan sebagai cara berfikir manusia untuk menemukan jawaban melalui pendidikan. Jika pandangan hidup manusia itu bersumber dari nilai-nilai ajaran agama (nilai-nilai teologis), maka visi dan misi pendidikan adalah memberdayakan manusia sebagai manusia yang menjadikan agama sebagai pandangan hidupnya sehingga mengakui akan pentingnya sikap tunduk dan patuh kepada hukum-hukum tuhan yang bersifat trasendental. Demikian juga sebaliknya, jika pandangan hidup manusia itu bersifat keduniawian dan sumber dari manusia, maka visi dan misis ediologis pendidikan adalah untuk meraih cita-cita kepuasan hidup manusia yang bersifat duniawi semata, hingga mengenyampingkan dan tidak memperdulikan nilai-nilai trasendental. Kedua pandangan hidup manusia ini diharapakan dapat di integrasikan, yakni landasan filosofis pendidikan seharusnya mengandung nilai-nilai trasendental yang bersumber dari tuhan, dan dari manusia[14].

2.      Landasan Historis
Nilai-nilai historis yang kemudian dijadikan sebadai landasan historis pendidikan, memiliki makna bahwa peristiwa kemanusiaan yang terjadi di masa lampau penuh dengan informasi-informasi yang mengandung kejadian-kejadian, model-model, konsep-konsep, teori-teori, praktik-praktik, moral, cita-cita, bentuk, dan sebagainya. Informasi dari sebuah peristiwa dimasa lampau tersebut mengandung muatan nilai pendidikan yang dapat dicontohkan dan ditiru oleh generasi masa kini dan yang akan datang[15].
Nilai-nilai yang terkandung dalam sejarah tersebut adalakanya positif, sehingga bisa dijadikan bahan acuan dalam pelaksaan pendidikan dimasa kini jika masih relevan dan mengembangkan serta menilitinya ketika tidak relevan. Dan adakalanya yang negatif, dalam hal ini cukup dijadikan pelajaran agar tidak diikuti baik oleh generasi sekarang atau dimasa yang akan.

3.      Landasan Sosiologis
Sosiologi berakar pada kata sosiologi yang berarti ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, terutama didalamnya perubahan-perubahan sosial[16]. Tidak jauh berbeda definisi sosiologi menurut J.A.A van Doorn dan C.J. Lammaers yang dikuti Soerjono mengatakan bahwa sosiologi adalah Ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil[17].
Nilai sosiologis memiliki gambaran bahwa, manusia yang hidup dalam pergaulan dan interaksi sosial antar manusia yang bersifat harmonis, damai dan sejahtera merupakan cita-cita yang harus dipertahankan oleh pendidikan. Dengan landasan ini, maka visi dan misi pendidikan adalah menumbuhkan dan menggerakkan semangat peserta didik (murid) untuk melakukan interaksi dan kerjasama dengan yang lain dengan baik dan benar[18].

4.      Landasan Kultural
Kultur berarti “kebudayaan” sedangkan kultural berarti “berdasarkan kebuadayaan”[19], artinya kebudayaan terdahulu berbeda dengan kebudayaan sekarang, begitu juga akan berbeda dengan kebudayaan dimasa yang akan datang. Perkembangan masa kini seperti adanya kemajuan teknologi, seudah barang tentu belum ditemukan dimasa lalu, begitu juga besar kemungkinan akan berkembangan dimasa yang akan datang. Atas dasar inilah, maka visi dan misi pendidikan adalah berusaha memanfaatkan (menjadikan fasilitas), mengkritisi serta memfilter perkembangan budaya manusia, terutama dalam hal negatif dari kemajuan teknologi[20].

5.      Landasan Psikologis
Perkembangan manusia tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhannya. Pertumbuhan adalah sesuatu yang menyangkut materi jasmaniah yang dapat menumbuhkan fungsi dan bahkan perubahan fungsi pada materi jasmaniah. Perubahan jasmaniah ini dapat menghasilkan kematangan atas fungsinya. Kematangan fungsi jasmaniah sangat mempengaruhi pada perubahan pada fungsi psikologis. Oleh karena itu perkembangan manusia tidak dapat dipisahkan dengan pertumbuhannya[21]. Dalam psikologi pendidikan, terdapat beberapa prinsip dan hukum perkembangan, antara lain :
a.       Perkembangan merupakan fungsi jasmaniah dan kejiwaan yang berlangsung dalam proses satu kesatuan yang menyeluruh (itegrated)
b.      Setiap individu mempunya kecepatan berkembangan
c.       Perkembangan seseorang, baik secara keseluruhan maupun setiap aspek tidak konstan melainkan berirama.
d.      Proses perkembangan dengan mengikuti pola tertentu
e.       Proses perkembangan berlangsung secara berkesinambungan
f.       Antara aspek perkembangan yang satu dengan aspek yang lain saling berkaitan atau berkolerasi secara signifikan
g.      Perkembangan berlangsung dari pola yang bersifat khusus kesifat yang khusus
h.      Perkembangan dipengaruhi oleh hereditas dan lingkungan
i.        Memiliki fungsi kepribadian yang bersifat jasmaniah, yaitu fungsi motorik pada bagian-bagian tubuh, fungsi sensoris pada alat-alat indra, fungsi neorotik pada system saraf, fungsi seksual pada bagian-bagian tubuh yang erotic, fungsi pernafasan pada alat pernafasan, fungsi peredaran darah pada jantung dan urat-urat nadi, dan fungsi pencernaan makanan pada alat pencernaan[22].
Sedangkan hukum perkembangan, antara lain : a) perkembangan bersifat kualitatif, b) perkembangan sangat dipengaruhi oleh proses dan hasil belajar, c) usia ikut mempengaruhi perkembangan, d) masing-masing individu mempunyai tempo perkembangan yang berbeda-beda, e) dalam keseluruhan periode perkembangan, f) setiap spesies perkembangan individu mengikuti pola umum yang sama, dan g) perkembangan dipengaruhi oleh hereditas dan lingkungan pendidikan[23].
Dari uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa dalam psikologi, manusia pada umumnya berkembang, dan perkembangannya sangat dipengaruhi oleh stimulus dari luar, termasuk belajar dan pembelajaran. Atas landasan ini, maka visi dan misi pendidikan adalah berusaha membentuk sikap dan prilaku peserta didik agar tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangan fisik maupun intelektualnya[24].

6.      Landasan Ilmiah-Rasional
Landasan Ilmiah-Rasional dapat dimaknai bahwa segala sesuatu yang dikaji dan dipecahkan melalui proses pendidikan hendaknya dikonstruksi berdasarkan hasil-hasil kajian dan penelitian ilmiah dan pengalaman empirik dari para ahli maupun praktisi pendidikan yang dapat diterima dan dibenarkan oleh akal manusia, termasuk penemuan teknologi modern yang terkait dengan masalah pendidikan[25]. Dalam landasan ini maka visi dan misi pendidikan adalah menjadikan kegiatan pendidikan terus direkonstruksi  secara ilmiah agar sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

7.      Nilai-nilai Agama
Landasan pendidikan Islam pada hakikatnya sama dengan asas pendidikan Islam. Yakni berdasarkan al-Quran dan hadits Nabi. Artinya semua kegiatan pendidikan harus mengacu dan bertitik tolak dari al-Quran sebagai firman Allah swt dn mencontoh sunnah Rasulullah saw. Selain itu nilai-nilai agama tidak berhenti sampai disitu, karena al-Quran yang memiliki sifat “Dzanniyuddilalah” atau multi tafsir, sehingga menjadi ranah Ijtihad para Ulama.  Sehingga dapat dikatakan bahwa sumber nilai yang menjadi dasar pendidikan Islam adalah al-Quran dan Sunnah Nabi yang dapat dikembangkan dengan Ijtihad, Al-Mashlahh Al-Mursalah, Istihsan dan Qiyas[26].  Nilai yang mengandung pengembangan pendidikan ini dapat dilihat dalam al-Quran al-Mukminun {23} 12-16, al-Hajj {22} 5 dan Shad {38} 72[27]. Dalam ayat-ayat tersebut terlihat jelas bahwa manusia (peserta didik) tidak hanya terdiri dari fisik (Jasmani), akan tetapi juga psikis (Rohani), yang keduanya berpotensi dan dapat dikembangkan[28].
Dari uraian diatas, maka nilai-nilai Agama sebagai landasan pendidikan dapat dipetakan menjadi dua :
a.       Al-Quran dan al-Hadits  sebagai landasan Ideal-Operasional Pendidikan Islam, artinya kegiatan pendidikan Islam itu harus diarahkan untuk meraih cita-cita yang setinggi-tingginya. Sebagaimana yang tergambar dalam al-Quran dan diaktualisasikan oleh Rasulullah saw.
b.      Hasil Ijtihad Ulama sebagai landasan pengembangan Pendidikan Islam, artinya hasil pemikiran para ulama dijadikan sebgai rujukan atau dasar untuk melaksanakan kegiatan pendidikan.
Metodologi Pendidikan Islam yang dinyatakan dalam al-Quran menggunakan sistem multi approuch  yang meliputi :
a.       Pendidikan religius, bahwa manusia diciptkan memiliki potensi dasar (Fitrah) atau bakat agama
b.      Pendekatan filosofis, bahwa manusia adalah makhluk rasional atau berakal pikiran untuk mengembangkan diri dan kehidupannya.
c.       Pendekatan rasio-kultural, bahwa manusia adalah makhluk yang bermasyarakat dan berkebudayaan sehingga latar-belakangnya mempengaruhi proses pendidikan
d.      Pendekatan scientific, bahwa manusia memiliki kemampuan kognitif, dan afektif yang harus ditumbuh kembangkan[29].

8.      Landasan Hukum
Selama ini telah banyak pemikiran dan kebijakan yang diambil dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan Islam yang diharapkan mampu memberikan nuansa baru bagi pengembangan sistem pendidikan Islam di Indonesia, dan sekaligus hendak memberikan kontribusi dalam menjabarkan makna pengembangan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan yang Maha Esa sebagaimana tertuang dalam tujuan pendidikan nasional (UU No. 2/ 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional)[30]. Landasan hukum ini dimaksudkan pada nilai-nilai yang a) tertulis dalam sebuah konstitusi yang mengatur tentang pendidikan, seperti UU 1945, UU Sikdiknas, peraturan Pemerintah tentang penyelenggaraan pendidikan. maupun a) yang tidak tertulis, seperti nilai-nilai yang bersifat konvensional yang menjadi patokan dalam masyarakat. Dari landasan ini, maka visi dan misi pendidikan adalah menjadikan peraturan dan norma tersebut sebagai pijakan dalam melaksanakan kegiatan pendidikan[31].






BAB III
KESIMPULAN
Dari pemaparan tentang landasan metodologi diatas, maka dapat disimpulkan beberapa point penting, yaitu:
1.      Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk yang memiliki dua unsur, jasmani dan rohani, yang terus berkembang bersamaan dengan pengetahuannya.
2.      Keterikatan manusia dengan proses belajar, diperlukan adanya desing khusus agar proses belajar tetap terarah  menuju tujuan pendidikan (khususnya Pendidikan Agama Islam)
3.      Guna mengembangkan design tersebut, dibutuhkan sebuah metodologi yang mencakup berbagai metode, proses, dan lain-lain.
4.      Landasan pengembangan tersebut dibagi menjadi 8 landasan, mulai dari landasan filosofis, historis, hukum, nilai-nilai agama, ilmiah-rasional, sosiologis dan lain-lain.








DAFTAR PUSTAKA
Jalaluddin. H., “Teologi Pendidikan”. 2003 (Jakarta; RajaGrafindo Persada)
Arifin, Muzayyin “Filsafat Pendidikan Islam” 2009 (Jakarta; PT Bumi Aksara)
Arief, Armai.  “Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam” 2002 (Jakarta; Ciputat Press)
Partanto, Pius A. dkk “Kamus Ilmiah Poluer” 1994 (Surabaya; Arkola)
Muhaimin, et. all. “Paradigma Pendidikan Islam;  Upaya mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah”. 2004 (Bandung; PT Remaja Rosdakarya)
Asrori, Mohammad. “Psikologi Pembelajaran” 2007 (Bandung; Wacana prima)
Tafsir, Ahmad. “Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam”. 2005 (Bandung; PT Remaja Rosdakarya Ofset)
Sudiyono, M. “Ilmu Pendidikan Islam” 2009 (Jakarta; PT Rineka Cipta)
Yasin, A. Fatah. “Dimensi-dimensi Pendidikan Islam” 2008 (Malang; UIN-Malang Press)
Soekanto, Soerjono. “Sosiologi; Suatu Pengantar” 2005 (Jakarta; Raja Grafindo Persada)
Hamruni, “Konsep Edutaiment dalam Pendidikan Islam” 2008 (Yogyakarta; Bidang Akademik UIN Sunan Kalijaga)
Mujamma’ Al-Malik Fahd Li Thiba’at al-Mush-haf “Al-Quran dan Terjemahannya” 1418 H (Madinah; Saudi Arabia}





[1] Prof. Dr. H. Jalaluddin, “Teologi Pendidikan”. 2003 (Jakarta; RajaGrafindo Persada) 67.
[2] Prof. Dr. H. Jalaluddin, “Teologi Pendidikan”. 2003 (Jakarta; RajaGrafindo Persada) 46.
[3] Prof. H. Muzayyin Arifin, M.Ed. “Filsafat Pendidikan Islam” 2009 (Jakarta; PT Bumi Aksara) 12
[4] DR. Armai Arief, “Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam” 2002 (Jakarta; Ciputat Press) 40
[5] Pius A Partanto dkk “Kamus Ilmiah Poluer” 1994 (Surabaya; Arkola) 461
[6] DRS. Muhaimin, MA. et. all. “Paradigma Pendidikan Islam;  Upaya mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah”. 2004 (Bandung; PT Remaja Rosdakarya) 184
[7] Prof. Dr. H. Mohammad Asrori “Psikologi Pembelajaran” 2007 (Bandung; Wacana prima) 6.
[8] DR. Ahmad Tafsir, “Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam”. 2005 (Bandung; PT Remaja Rosdakarya Ofset) 24
[9]Prof. H. Muzayyin Arifin, M.Ed. “Filsafat Pendidikan Islam” 2009 (Jakarta; PT Bumi Aksara) 13
[10]DR. Ahmad Tafsir, “Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam”. 2005 (Bandung; PT Remaja Rosdakarya Ofset) 24
[11] Drs. H. M. Sudiyono “Ilmu Pendidikan Islam” 2009 (Jakarta; PT Rineka Cipta) 6.
[12] DRS. Muhaimin, MA. et. all. “Paradigma Pendidikan Islam;  Upaya mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah”. 2004 (Bandung; PT Remaja Rosdakarya) 75
[13] A. Fatah Yasin “Dimensi-dimensi Pendidikan Islam” 2008 (Malang; UIN-Malang Press) 31-49
[14] A. Fatah Yasin “Dimensi-dimensi Pendidikan Islam” 2008 (Malang; UIN-Malang Press) 32
[15] A. Fatah Yasin “Dimensi-dimensi Pendidikan Islam” 2008 (Malang; UIN-Malang Press) 32
[16] Pius A Partanto dkk “Kamus Ilmiah Poluer” 1994 (Surabaya; Arkola) 461
[17] Soerjono Soekanto “Sosiologi; Suatu Pengantar” 2005 (Jakarta; Raja Grafindo Persada) 20
[18] A. Fatah Yasin “Dimensi-dimensi Pendidikan Islam” 2008 (Malang; UIN-Malang Press) 34
[19] Pius A Partanto dkk “Kamus Ilmiah Poluer” 1994 (Surabaya; Arkola) 387.
[20] A. Fatah Yasin “Dimensi-dimensi Pendidikan Islam” 2008 (Malang; UIN-Malang Press) 35
[21] Prof. Dr. H. Djaali, “Psikologi Pendidikan” 2009 (Jakarta; Bumi Aksara) 21
[22] Prof. Dr. H. Djaali, “Psikologi Pendidikan” 2009 (Jakarta; Bumi Aksara) 21
[23] Prof. Dr. H. Djaali, “Psikologi Pendidikan” 2009 (Jakarta; Bumi Aksara) 22
[24] A. Fatah Yasin “Dimensi-dimensi Pendidikan Islam” 2008 (Malang; UIN-Malang Press) 34
[25] A. Fatah Yasin “Dimensi-dimensi Pendidikan Islam” 2008 (Malang; UIN-Malang Press) 36
[26] A. Fatah Yasin “Dimensi-dimensi Pendidikan Islam” 2008 (Malang; UIN-Malang Press) 37-38
[27] Lampiran
[28] Dr. H. Hamruni, M. Si “Konsep Edutaiment dalam Pendidikan Islam” 2008 (Yogyakarta; Bidang Akademik UIN Sunan Kalijaga) 6
[29] DR. Amai Arief “Pengantar Ilmu dan Metode Pendidikan  Islam” 2002 (jakarta; PT Intermasa) 41
[30] DRS. Muhaimin, MA. et. all. “Paradigma Pendidikan Islam;  Upaya mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah”. 2004 (Bandung; PT Remaja Rosdakarya) 35
[31] A. Fatah Yasin “Dimensi-dimensi Pendidikan Islam” 2008 (Malang; UIN-Malang Press) 36

Artikel yang Perlu Anda Baca

0 komentar:

Poskan Komentar

silahkan komentar..... tapi tetap dengan sopan

Copyright © Islam Mumtaz - Blogger Theme by BloggerThemes & newwpthemes - Sponsored by Internet Entrepreneur