AHLAN WASAHLAN,ISLAM MUMTAZ, JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMENTAR

UPAYA INTEGRASI KURIKULUM AGAMA DAN UMUM




STUDI KASUS

PONDOK PESANTREN RAUDLATUL ULUM 1 GANJARAN
 


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan sebagai proses pengembangan potensi manusia pada aspeknya masing-masing,  pada era globalisasi ini, setidaknya terdapat dua hal yang menjadi pekerjaan rumah, terutama oleh lembaga-lembaga pendidikan yang berbasis agama. Pertama, semakin majunya ilmu pengetahuan dan IPTEK. Sehingga hal itu menyebabkan Kedua, pergeseran nilai-nilai agama, budaya, maupun kemanusiaan yang semakin terkikis seiring dengan perkembangan zaman[1].
Dalam hal ini, pondok pesantren merupakan suatu lembaga pendidikan Islam, yakni lembaga yang digunakan untuk mempelajari agama Islam, sekaligus sebagai pusat penyebarannya. Sebagai pusat penyebaran agama Islam,  pesantren dituntut untuk mengembangkan fungsi dan perannya, yaitu mengupayakan tenaga-tenaga atau misi-misi agama, yang nantinya diharapkan mampu membawa perubahan kondisi, situasi, dan tradisi masyarakat yang lebih baik.

Dengan ini pondok pesantren diharapkan tidak hanya berkemampuan dalam pembinaan pribadi muslim yang islami, tetapi juga mampu mengadakan perubahan dan perbaikan sosial kemasyarakatan. Pengaruh pesantren sangat terlihat positif bila alumnusnya telah kembali ke masyarakat dengan membawa berbagai perubahan dan perbaikan bagi kehidupan masyarakat sekitarnya.
Pada era globalisasi ini, pesantren dihadapkan pada perkembangan masalah yang sangat pesat, sehingga pesantren dituntut  untuk harus bisa mengantisipasi perkembangan tersebut. Jika tidak, maka pesantren akan berada pada posisi yang tersisih. Bertolak dari hal tersebut, pesantren kini tidak harus memfokuskan perhatian pada lembaga pendidikan agama saja,  namun juga harus mempertimbangkan usaha pengembangan keterampilan santri.  Salah satu pesantren yang memulai untuk mengembangkan potensi santri bukan hanya pada ranah keilmuan agama tersebut, adalah pondok pesantren Raudlatul Ulum 1 Ganjaran Gondanglegi.  Hal ini terbukti, alumni yang lulus dari pesantren ini bukan hanya berkiprah dan berkarir menjadi tokoh agama, namun sudah ada yang menjadi anggota dewan, pedagang dan lain sebagainya. Dari uraian inilah, menarik bagi peneliti untuk meneliti proses pendidikan agama yang di integrasikan dengan sains/ umum pada pesantren tersebut, sehingga makalah ini peneliti usung dengan judul Upaya Integrasi Pendidikan Agama Dan Sains, Studi Kasus  Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 1 Ganjaran

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana bentuk integrasi pendidikan agama dengan sains dipondok Pesantren raudlatul ulum 1 ganjaran?
2.      Bagaimana upaya bentuk integrasinya?
3.      Apa kendala proses pendidikan agama yang diintegrasikan dengan sains?

C.    Tujuan Penelitian
1.      Mengetahui bentuk integrasi pendidikan agama dengan Sains, di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 1 Ganjaran
2.      Mengetahui upaya bentuk integrasinya
3.      Mengetahui dan memahami kendala yang dihadapi

D.    Ruang Lingkup Penelitian
Pada makalah ini peneliti tidak akan membahas secara rinci mengenai konsep integrasi antara agama dan sains yang berada di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 1, namun hanya pada klasifikasi hubungan antara keduanya pada tataran tipologi.



BAB II
KAJIAN TEORI
A.    Integrasi
Integrasi memiliki arti penggabungan / pembauran hingga menjadi satu kesatuan yang utuh[2]. Sebelum membahas tentang integrasi, terlebih dahulu kita harus memahami tipologi hubungan antara sains dan agama.Ian. G. Barbour, sebagai tokoh pengkaji hubungan sains dan agama telah memetakan hubungan antara keduanya. Dia juga berupaya menunjukkan keberagaman posisi yang yang dapat diambil berkenaan dengan hubungan keduanya, yang ada pengaruhnya pada disiplin disiplin ilmu yang lain. Terdapat empat tipologi pada hubungan sains dan agama. Yakni, konflik, Independensi, Dialog dan Integrasi.
1.      Konflik
Dalam tipologi pertama ini, memiliki pandangan bahwa agama dan sains tidak bisa dipertemukan, sehingga seseorang harus memilih salah satu diantara sains dan agama. Artinya, masing-masing sains dan agama menegaskan eksistensi masing-masing. Pandangan konflik ini, dikemukakan dalam dua buku berpengaruhnya, yaitu History of The Conflict between Religion and Secience, karya J. W. Draper dan History of the Warfare of Secience with Theology in Christendom karya A.D. White[3].
Terdapat beberapa landasan pemikiran yang menyebabkan sains dan agama tidak bisa dipertemukan, antara lain:
a.       Dalam pandangan mereka, agama tidak dapat memebuktikan kebenaran ajaran-ajarannya dengan tegas dan logis, sementara sains dapat melakukan hal tersebut.
b.      Agama, bersifat abstrak dan tidak mau memberikan petunjuk secara konkrit tentang keberadaan tuhan, sementara sains mau menguji segala hipotesis dan semua teorinya berdasarkan pengalaman[4].

2.      Independensi
Independensi, merupakan salah satu pemahaman untuk menghindari konfil antara Sains dan Agama, dengan cara menempatkan masing-masing bidang dikawasan yang berbeda. Pemisahan kedua wilayah ini, bukan hanya dikarekan untuk menghindari konflik, namun juga termotivasi oleh keyakinan bahwa kedua bidang ini memiliki kebenaran masing-masing dan karakteristik  masing-masing[5].
3.      Dialog
Pandangan ini menawarkan hubungan antara sanis dan agama yang lebih konstruktif. Artinya, pandangan ini menekankan pada kesamaan antara sain dan agama yang dapat didialogkan. Bahkan keduanya saling mendukung antara satu dengan yang lain. Proses yang dilakukan dengan cara mendialogkan keduanya, dengan menekankan kemiripan konsep dan metode[6].
4.      Integrasi
Pandangan ini memunculkan hubungan yang lebih bersahabat dari pandangan yang terdahulu. Yakni, doktrin yang dimiliki sains dan agama sama-sama dianggap valid dan menjadi sumber koheren dalam pandangan dunia. Bahkan, pemahaman tentang dunia yang diperoleh melalui sains diharapkan dapat memperkaya pemahaman keagamaan bagi orang yang beriman. Terdapat tiga versi pemahaman tentang integrasi, yakni:
a.       Natural Theology
Mengklaim bahwa eksistensi Tuhan dapat disimpulkan dari bukti tentang desain alam, yang dengan keajaiban struktur alam membuat manusia semakin menyadari dan meyakini alam ini sebagai karya Allah swt.
b.      Theology Of Natural
Pada pandangan ini, terdapat klaim bahwa sumber utama teologi bersumber diluar sains,  namun pendangan ini juga berpendapat bahwa doktrin tradisional harus tetap dirumuskan ulang dalam pandangan sanis terkini.
c.       Sintesis Sistematis
Merupakan cara pandang dalam hubungan antara sains dan Agama dengan hubungan yang lebih sistematis dapat dilakukan jika sains dan agama memberikan kontribusi kearah pandangan dunia yang lebih keheren yang dielaborasi dalam kerangka metafisika yang komprehensif[7].

B.     Pendidikan Agama
Pengertian pendidikan agama tidak dapat dipisahkan dengan pengertian pendidikan pada umumnya, sebab pendidikan agama merupakan bagian integral dari pendidikan secara umum.
Dalam hal ini menurut Zuhairini, yang dikutip oleh Muhaimin menjelaskan bahwa dalam Islam pada mulanya pendidikan disebut dangan kata “ta’lim” dan “ta’dib” mengacu pada pengertian yang lebih tinggi, dan mencakup unsur-unsur  pemgetahuan (‘ilm), pengajaran (ta’lim) dan pembimbingan  yang baik (tarbiyah). Sedangkan menurut Langgulung (1997), pendidikan Islam itu setidak-tidaknya tercakup dalam delapan pengertian, yaitu Al-tarbiyah al-diniyah (pendidikan keagamaan), ta’lim al-din (pengajaran agama), al-ta’lim al-diny (pengajaran keagamaan), al-ta’lim al-Islamy  (pengajaran keislaman), tarbiyah al-muslimin (pendidikan orang-orang Islam), al-tarbiyah fi al-Islam (pendidikan dalam Islam), al-tarbiyah ‘inda al-muslimin (pendidikan di kalangan orang-orang Islam), dan al-tarbiyah al-Islamiyah (pendidikan Islam).
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan dapat diartikan sebagai bimbingan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembanagan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama, sehingga pendidikan dipandang sebagai salah satu aspek yang memiliki peranan pokok dalam membentuk generasi muda agar memiliki kepribadian yang utama.
C.    Sains
Sains, berasal dari bahasa inggris sceience yang berarti, Ilmu Pengetahuan atau pengetahuan[8] dia juga memiliki karakteristik tertentu, dan apabila dicermati memiliki kata sinonim dengan pengetahuan ilmiah[9]. Dengan demikian, kata sains sebagai ilmu pengetahuan tidak bisa dilepas dengan filsafat sebagai induk dari ilmu pengetahuan. Sementara itu, agama sebagai alternatif bagi filsafat guna mendapatkan kebenaran yang hakiki. Sehingga antara agama (dalam hal ini diwakilkan oleh pendidikan Islam) tidak ada perbedaan ataupun pertentangan. Pandangan ini jika didasarkan pada salah satu tipologi hubungan antara sains dan agama, baik yang dialog ataupun integrasi.
D.    Pondok Pesantren
Menurut pendapat para ilmuwan, istilah pondok pesantren adalah merupakan dua istilah yang mengandung satu arti. Orang Jawa menyebutnya “pondok” atau “pesantren”. Sering pula menyebut sebagai pondok pesantren. Istilah pondok barangkali berasal dari pengertian asrama-asrama para santri yang disebut pondok atau tempat tinggal yang terbuat dari bambu atau barangkali berasal dari bahasa Arab “funduq” artinya asrama besar yang disediakan untuk persinggahan.
Jadi pesantren secara etimologi berasal dari kata santri yang mendapat awala pe- dan akhiran -an sehingga menjadi pe-santria-an yang bermakna kata “shastri” yang artinya murid. Sedang C.C. Berg. berpendapat bahwa istilah pesantren berasal dari kata shastri yang dalam bahasa India berarti orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu, atau seorang sarjana ahli kitab-kitab suci agama Hindu. Kata shastri berasal dari kata shastra yang berarti buku-buku suci, buku-buku suci agama atau buku-buku tentang ilmu pengetahuan.[10]
Dari pengertian tersebut berarti antara pondok dan pesantren jelas merupakan dua kata yang identiK (memiliki kesamaan arti),  yakni asrama tempat santri atau tempat murid / santri mengaji.
Sedang secara terminologi pengertian pondok pesantren dapat penulis kemukakan dari pendaptnya pada ahli antara lain:
M. Dawam Rahardjo memberikan pengertian pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan dan penyiaran agama Islam, itulah identitas pesantren pada awal perkembangannya. Sekarang setelah terjadi banyak perubahan di masyarakat, sebagai akibat pengaruhnya, definisi di atas tidak lagi memadai, walaupun pada intinya nanti pesantren tetap berada pada fungsinya yang asli, yang selalu dipelihara di tengah-tengah perubahan yang deras. Bahkan karena menyadari arus perubahan yang kerap kali tak terkendali itulah, pihak luar justru melihat keunikannya sebagai wilayah sosial yang mengandung kekuatan resistensi terhadap dampak modernisasi.[11]

BAB IV
ANALISIS DAN PAPARAN DATA
A.    Sekilas Profil PP. Raudlatul ulum 1 Ganjaran
Pon-Pes “Raudlatul Ulum” 1 Ganjaran didirikan pada tahun 1949 M. oleh Alm. K.H. Yahya Syabrowi (w. 1987 M.), seorang ulama kelahiran Sampang Madura pada tahun 1916 M. Di mulai dengan 10 orang santri yang menempati gubuk-gubuk sederhana dari bambu. Dengan segala ketabahan dan keuletan, pada tahun 1970 M., jumlah santri mencapai 240 orang putra-putri. Lembaga pendidikan yang secara bertahap dimiliki pada masa itu meliputi mulai dari TK, MI, MTs, MA baik putera maupun puteri hingga perguruan tinggi.
Pada era generasi kedua, di bawah kendali Alm. K.H. Khozin Yahya (w. 2000 M.) - putra tertua Alm. K.H. Yahya Syabrowi, jumlah santri mengalami peningkatan yang cukup pesat, mencapai 700 orang putra-putri. Pada masa ini pula, didirikan lembaga Madrasah Diniyah yang ditujukan untuk (1) memberikan jalur alternatif bagi para santri yang kurang mampu secara ekonomi untuk bersekolah formal dan (2) membekali para santri dengan keilmuan kitab kuning sebelum bersekolah formal. Dari tahun ke tahun, lembaga ini mengalami perkembangan yang sangat pesat, baik dalam hal kualitas maupun kuantitas.
Pon-Pes “Raudlatul Ulum” 1 saat ini dipimpin oleh genera si ketiga, yaitu K.H. Ahmad Hariri Yahya, K.H. Mukhlis Yahya dan K.H. M. Madarik Yahya, tiga adik kandung Alm. K.H. Khozin Yahya, dengan dibantu oleh beberapa orang keluarga yang lain, dalam sebuah wadah kelembagaan yang disebut Dewan Pengasuh.
Sejak awal berdiri, Pon-Pes “Raudlatul Ulum” 1 Ganjaran tetap konsisten menerapkan kurikulum dan sistem pendidikan khas pesantren, dengan kitab kuning sebagai poros sentralnya, namun juga diselingi dengan berbagai inovasi dan kreasi baru sesuai dengan kebutuhan zaman yang terus berkembang dan berubah.
Terhitung sejak tahun 1987 M., Pon-Pes “Raudlatul Ulum” 1 Ganjaran berada di bawah naungan Yayasan K.H. Yahya Syabrowi, dengan Akta Notaris Pramu Haryono, S.H. No. 52 Tanggal 7 April 1987 M.
Para santri yang belajar di PPRU 1 berasal dari berbagai pelosok daerah, mulai Lombok (Nusa Tenggara Barat), Kalimantan Barat (Pontianak dan Kubu-Raya), Kalimantan Timur (Banjarmasin), Jawa Timur, Madura, sampai Jawa Tengah (Magelang)[12].

B.     Visi Misi
1.      Visi Pesantren
Menjadi lembaga pendidikan agama terkemuka penghasil pemimpin umat yang Islami, profesional dan berhaluan Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah

2.      Misi Pesantren
a)      Mengembangkan managemen kepemimpinan dan tata kelola keorganisasian, sesuai dengan visi Yayasan, kebutuhan aktual masyarakat, standarisasi yang ditetapkan oleh pemerintah dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
b)      Menyelenggarakan dan mengembangkan pembelajaran IMTAQ (iman dan taqwa), sesuai dengan haluan Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah.
c)      Mengembangkan pola interaksi sosial, baik internal maupun eksternal, yang mampu membentuk kepribadian yang jujur dan kesatria (shidq), bertanggung jawab (amanah), peka dan peduli (fathanah), berani dan terbuka (tabligh), ikhlas dalam beramal, serta santun terhadap siapa saja.
d)     Menyelenggarakan dan mengembangkan sistem pendidikan yang berorientasi kepada spesialisasi bidang keilmuan dan keterampilan; ilmu-ilmu keislaman berbasis kitab kuning, ilmu-ilmu sosial dan humaniora, ilmu-ilmu teknologi informasi, dan keterampilan.
e)      Menyelenggarakan dan mengembangkan pembekalan dan praktik pemberdayaan masyarakat di bidang sosial keagamaan secara profesional[13].
Dari paparan tentang visi dan misi ini, nampak bahwa Pesantren Raudlatul Ulum 1 tidak hanya menginginkan santri yang lulus menjadi ahli dalam bidang agama, namun juga menguasai bidangbidang yang lain, yang semuanya beroirientasi pada peningkatan aspek kemampuan sumber daya manusianya. Hal ini dapat dilihat dari pernyataan Wakil Yayasan KH. Syabrowi, KH. Madarik Yahya sebagai berikut :
“Raudlatul Ulum 1, pada awalnya memang tidak memiliki lembaga pendidikan formal. Namun, pendiri (KH. Yahya Syabrowi), memiliki pandangan pendidikan yang lebih maju untuk kemashlahatan para santri. Diantara bukti keinginan beliau mencetak santri yang tidak hanya handal dibidang agama, ialah dengan didirikannya STAI (Sekolah Tinggi Agama Islam) al-Qolam Gondanglegi. Yang merupakan satu-satunya sekolah tinggi dikecamatan Gondanglegi”[14].
C.    Unit Pendidikan
1.      Formal
a.      SMK al-Khozini
Pendidikan Formal yang berada dibawah Yayasan KH, Yahya Syabrowi (satu unit pendidikan dengan PP. Raudlatul Ulum 1), adalah SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) Al-Khozini, yang memiliki beberapa jurusan pendidikan, yakni TKJ (Teknologi Komputer Jaringan), MM (Multi Media) dan Tatabusana.
b.      STAI al-Qolam
Merupakan Sekolah Tinggi yang telah didirikan sejak tahun 1970 an,  Oleh KH. Yahya Syabrowi (Pendiri PP. Raudlatul Ulum 1). Saat ini telah memiliki beberapa jurusan antara lain, PAI (Pendidikan Agama Islam) dan Akhwal al-Syakhsyiyah.
2.      Nonformal
Sedangkan pendidikan nonformal  yang berada di PP. Raudlatul Ulum 1, berupa Madrasah Diniyah. Madrasah ini merupkan madrasah dibidang keagamaan, sehingga kurikulum yang digunakan didalamnya berupa disiplin-disiplin ilmu pengetahuan agama[15].

D.    Desain Kurikulum
Secara umum, kurikulum pendidikan yang diterapkan di PP. Raudlatul Ulum 1 berupaya menggabungkan antara agama dan sains. Hal ini terbukti dari semua kegiatan dipesantren berupa bentuk pengejentuahan dari visi dan misi Pesantren itu sendiri.
1.      Kurikkulum :
2.      Penerapaan Gerakan Santri Menabung.
3.      Guru Tugas

BAB VI
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari paparan dan analisi data maka disini peneliti dapat menyimpulkan beberapa point penting berkenaan dengan upaya integrasi pendidikan agama dan sains yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 1 Ganjaran, sesuai dengan rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Hubungan pendidikan Agama dengan Sains dipondok Pesantren Raudlatul Ulum 1 Ganjaran, berbentuk Integrasi, sehingga menmpatkan kedua bidang (Agama dan Sains) pada bidangnya masing-masing, ditambah dengan pengkolaborasian keduanya agar saling menunjang, sehingga bentuk integrasinya berupa Sintesis Sistemis
2.      Upaya yang telah dilakukan Pesantren Raudlatul Ulum 1 Ganjaran, dengan membuka lembaga pendidikan dibawah naungan Yayasan yang memiliki corak integrasi. Artinya, pendidikan agama tidak hanya didampingi dengan sains, begitu juga pendidikan umum juga tetap diberi mata pelajaran Agama.
3.      Adapun kendala proses pendidikan agama yang diintegrasikan dengan sains Pesantren Raudlatul Ulum 1 Ganjaran, adanya dualisma kepentingan. Dilain sisi, pendidikan yang menekankan ke-agama-an menginginkan para muridnya menguasi mata pelajaran agama, sedangkan disisi lain sebaliknya, pendidikan umum juga demikian, sehingga Pondok pesantren sendiri secara bijak memberikan solusi alternatif dengan tetap mengakompdir keduanya tanpa tebang pilih.
B.     Saran
1.      Kesimpulan diatas, masih bersifat penelitian sederhana, diperlukan penelitian lebih mendalam lagi tentang integrasi pendidikan Agama dan Sains di Pesantren Raudlatul Ulum 1 Ganjaran. Misalnya dari segi struktur kependidikan dan metode pengajaran.
2.      Diharapkan ada penelitian ulang untuk lebih menguji keabsahan data, dan analisis yang lebih tajam, agar bentuk integrasinya lebih jelas.
















Daftar Pustaka
Ahmad Barizi “Pendidikan Integratif; Akar Tradisi & Integrasi Keilmuan Pendidikan Islam 2011 (Malang; UIN-Maliki Press)
M. Dahlan Dkk “Kamus Induk Istilah Ilmiah Seri Intelektual” 2003 (Surabaya; Target Press )
Ian. G. Barbour “Juru Bicara Tuhan Antara Sains dan Agama, Terj. E.R. Muhammad 2004 (Bandung; Mizan)
Jhon F. Haught “Perjumpaan Sains dan Agama; dari Konflik ke Dialog 2004 (Bandung; Mizan)
Zainal Habib “Islamisasi Sains; Mengembangkan Integrasi, Mendialogkan Perspektif” 2007 (Malang; UIN-Maliki Press)
Yasmadi, “Modernisasi Pesantren” 2002  (Jakarta; Ciputat Press)
Zamakhsyari Dhofier “Tradisi Pesantren” Cet. II, 1994 (Jakarta; LP3ES)
Atabik Ali “Kamus Inggri Indonesia Arab“ 2010 (Yogyakarta; Multy Karya Grafika)
Pengurus Harian PP. Raudlatul Ulum Satu “Jurnal LatansA” 2012 (Malang; RU-1 Press)


[1] Ahmad Barizi “Pendidikan Integratif; Akar Tradisi & Integrasi Keilmuan Pendidikan Islam 2011 (Malang; UIN-Maliki Press) 255
[2] M. Dahlan Dkk “Kamus Induk Istilah Ilmiah Seri Intelektual” 2003 (Surabaya; Target Press ) 322
[3][3] Ian. G. Barbour “Juru Bicara Tuhan Antara Sains dan Agama, Terj. E.R. Muhammad 2004 (Bandung; Mizan) 54
[4] Jhon F. Haught “Perjumpaan Sains dan Agama; dari Konflik ke Dialog 2004 (Bandung; Mizan) 2
[5] Jhon F. Haught “Perjumpaan Sains dan Agama; dari Konflik ke Dialog 2004 (Bandung; Mizan) 9
[6] Ian. G. Barbour “Juru Bicara Tuhan Antara Sains dan Agama, Terj. E.R. Muhammad 2004 (Bandung; Mizan) 74
[7] Ian. G. Barbour “Juru Bicara Tuhan Antara Sains dan Agama, Terj. E.R. Muhammad 2004 (Bandung; Mizan) 83-84
[8]  Atabik Ali “Kamus Inggri Indonesia Arab“ 2010 (Yogyakarta; Multy Karya Grafika) 740
[9] Zainal Habib “Islamisasi Sains; Mengembangkan Integrasi, Mendialogkan Perspektif” 2007 (Malang; UIN-Maliki Press) 8-9
[10] Yasmadi, Modernisasi Pesantren. 2002  (Jakarta; Ciputat Press) 62
[11] Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, Cet. II, 1994 (Jakarta; LP3ES) 18
[12] Pengurus Harian PP. Raudlatul Ulum Satu “Jurnal LatansA” 2012 (Malang; RU-1 Press) 4
[13] Pengurus Harian PP. Raudlatul Ulum Satu “Jurnal LatansA” 2012 (Malang; RU-1 Press) 5
[14] Wawancara dilakukan pada hari sabtu, 14 januari 2013; Jam 09:00 wib
[15] Pengurus Harian PP. Raudlatul Ulum Satu “Jurnal LatansA” 2012 (Malang; RU-1 Press) 12-14

Artikel yang Perlu Anda Baca

0 komentar:

Poskan Komentar

silahkan komentar..... tapi tetap dengan sopan

Copyright © Islam Mumtaz - Blogger Theme by BloggerThemes & newwpthemes - Sponsored by Internet Entrepreneur